Puguh Harjanto Hadir Dalam Talkshow Ngopi Sore Diskominfo Kaltim

Kepala DPMPTSP Kaltim Puguh Harjanto hadir dalam gelaran Ngobrol Pintar (Ngopi) sore besutan Diskominfo Kaltim dan Harian Disway Kaltim pada hari kamis 8 juli 2021 bersama Ketua Umum HIPMI Kaltim, Bakrie Hadi dengan moderator Kiky Marietha dari Diskominfo Kaltim.
Puguh Harjanto, yang baru enam bulan menjabat, membawa kabar menggembirakan dalam momen tersebut, yakni berbicara tentang trend positif perkembangan investasi di Benua Etam. Secara umum head to head capaian realisasi investasi triwulan I 2021 melawan realisasi triwulan I 2020 mengalami kenaikan sekitar 2-3 persen.
 
Di tahun 2020 realisasi investasi Kaltim mampu melampaui target yang ditetapkan Kementerian Investasi RI hingga sebesar 146 persen. Di mana hal itu, menurutnya telah memberi kontribusi besar terhadap prosentase peningkatan pertumbuhan nilai investasi di luar Pulau Jawa. Yang sejak dua tahun terakhir trend-nya berada di wilayah positif.
“51 persen realisasi investasi nasional sudah bergeser keluar dari Pulau Jawa. Artinya ini hal cukup positif,” imbuh mantan Sekretaris Lurah Gunung Telihan tersebut.
 
Pada satu sisi Kepala Dinas mengatakan, dampak pandemi COVID-19 tidak cukup kuat mempengaruhi pertumbuhan realisasi investasi. Menilik data realisasi head to head tadi. Saat ini DPMPTSP Kaltim masih menyisakan sekitar 508 pelaporan investasi yang belum terekapitulasi. Karena menunggu perbaikan dari masing-masing perusahaan.
 
“Jika itu sudah diperbaiki saya yakin progresnya bisa lebih tinggi lagi. Ini hal positif. Pandemi tidak menyurutkan aktifitas investasi di Kaltim. Kaltim masih favorit untuk investasi,” ujar Puguh Harjanto mengawali diskusi
Terpisah, Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Timur, Bakrie Hadi menuturkan soal ketimpangan sektor penopang ekonomi dan investasi selama ini, ketika membuka obrolan dalam diskusi. Ia mengatakan, bahwa sejauh ini penyumbang terbesar realisasi investasi Kaltim adalah sektor pertambangan dan energi. Atau batu bara dan migas. Yang berperan hingga 48 persen. Padahal, ada banyak sektor-sektor potensial lain di Kaltim yang memang masih perlu didorong lebih kuat. Agar menarik minat para penanam modal. Misalnya, sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, hingga pariwisata.
 
“Kita memang ada kegelisahan berpikir tentang iklim investasi ini. Yaitu apa yang harus disiapkan berikutnya. Untuk generasi selanjutnya, Pasca tambang, migas dan batu bara,” ucap Bakrie Hadi.
 
Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang baik antar semua lini untuk mewujudkan pemerataan atau keseimbangan pilar tumpuan ekonomi dan investasi itu.
“Kita perlu banyak tangan dan kepala untuk menggarap ini. Harus bekerja sama, kolaborasi, untuk sama sama mendorong sektor-sektor tersebut,” paparnya.
Puguh Harjanto, turut merespon keresahan itu. Ia berujar, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sedang berkonsentrasi mengalihkan investasi dari sektor yang sejak dulu menjadi primadona. Seperti batu bara dan migas. Dan upaya itu, dinilai sedang on the track. Yakni dengan beberapa rencana pembangunan strategis yang dapat menjadi triger. Yaitu yang pertama rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim.
 
“Di IKN ini sudah ada beberapa proyek yang memungkinkan untuk dirilis. Salah satunya kesiapan Asosiasi Pengusaha Assean yang bulan Agustus nanti akan berkunjung. Melihat beberapa proyek.” tambah Kepala Dinas
 
Di antaranya, kata Puguh, adalah rencana pembangunan jembatan tol Balikpapan-PPU.
Kemudian ada pengembangan Kawasan Industri Buluminung (KIB) di provinsi yang sama. Lalu Kawasan Industri Katiangu (KIK) di Balikpapan. Dan salah satu proyek strategis nasional yang telah dirilis oleh Kementerian Investasi, yaitu proyek MBTK di Maloy, Kutai Timur.
“MBTK siap ditawarkan tahun ini. Dan di sisi lain kita terus mendorong hilirisasi sektor pertambangan. BCIP di Kutim juga sudah running, itu untuk smelter batu bara (Coal) menjadi Metanol,” imbuh Puguh
 
Menurut Puguh, dibutuhkan keberanian untuk mencoba mengawali hijrah dari migas dan batu bara ke sektor-sektor lain yang tidak kalah potensial.
“Karena kalau kita lihat data BI jika dibandingkan seluruh provinsi di Kalimantan ini pertumbuhan kita masih di bawah rata-rata. Sehingga ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita, untuk bagaimana caranya mengembangkan sektor-sektor yang mungkin selama ini potensial tapi belum tersentuh,” jelasnya.
DPMPTSP kaltim telah membuat strategi kebijakan. Yaitu memfokuskan beberapa bidang dalam strukturnya untuk memetakan potensi-potensi itu. Kemudian mengawalnya, mulai dari mendata, mempromosikan menawarkan hingga menjual. Dalam proses pemetaan itu juga, sambungnya, Dinas Perizinan coba menjajaki peluang kerja sama pengusaha dengan calon investor yang akan masuk.
 
Senada dengan itu, Bakri mengatakan, secara nasional HIPMI memang sudah lebih dulu menjalin kerja sama dengan Kementerian Investasi. Untuk menjamin bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) atau investasi asing harus mau bekerja sama dengan Usaha Kecil, Menengah dan Mikro yang berbasis di daerah tujuan investasi. Termasuk juga pengusaha lokal di daerah itu.
 
“Kerja sama ini sudah mulai berjalan di beberapa provinsi, termasuk di Kaltim,” ujar mantan ketua KNPI tersebut