Jl. Basuki Rahmat No.56, Samarinda 75112


Senin, 06 Mei 2019      Decky      718 kali

6 Fakta Rencana Pabrik Semen di Kaltim, Potensi Karst Cukup untuk 100 Tahun hingga Alasan Penolakan

Pendirian pabrik semen di Kaltim tepatnya di kawasan Karst Sekerat-Selangkau, terus menjadi perdebatan berbagai pihak. Meski pemerintah, baik dari Provinsi Kaltim maupun Pemerintah Kabupaten Kutai Timur serta masyarakat setempat setuju, namun kalangan aktivis dan mahasiswa masih terus menggelorakan semangat penolakan.

Wabup Kutim Kasmidi Bulang mengatakan, area yang diusulkan menjadi kawasan pabrik semen di Kaltim dan ditambang, tidak masuk dalam area hasil delineasi Kawasan Cagar Budaya Karst Sangkulirang – Mangkalihat. Luasan cagar budaya hanya sekitar 14.000 hektar, terdiri dari 2.000 hektar merupakan zona inti dan 12.000 hektar sebagai zona penyangga. Jumlah itu bagian dari total luasan Karst Sangkulirang –Mangkalihat yang mencapai 105.000 hektar.

“Usulan pabrik semen sudah keluar izinnya sejak 2003 lalu. Lokasinya, berada di luar cagar budaya tersebut. Karena di situ masih ada sekitar 1.071, 14 hektar dari 8.000 hektar luasan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yang merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang bisa dimanfaatkan untuk usaha,” kata Kasmidi Bulang.

Meski belakangan, terbit Peraturan Gubernur Kaltim nomor 67 tahun 2012 yang menyatakan seluruh kawasan Sekerat, masuk dalam KBAK, seluas 8.000 hektar, bukan 7.000 hektar.

“Saat ini untuk Peraturan Gubernur Kaltim tersebut sedang kita tinjau kembali. Karena hal ini berbeda dengan RTRWK Kutai Timur,” ujarnya.

Pemkab Kutim, menurut Kasmidi, pada dasarnya mendorong investasi yang masuk. Tapi tetap memikirkan dampak lingkungan. Kalau dilihat di peta, kawasan yang 1.071,14 hektar, berada di kaki gunung tepi pantai Sekerat, bukan di bukit karst yang tinggi.

“Investor juga berjanji melakukan eksploitasi dengan pola ramah lingkungan. Mengunakan surface mining machine dan tidak membuat ledakan dalam melakukan operasionalnya. Termasuk menyisakan bukit karst minimal 82 meter di atas permukaan laut,” ujarnya

Pendirian pabrik semen di Kaltim tepatnya di kawasan Karst Sekerat-Selangkau, terus menjadi perdebatan berbagai pihak. Meski pemerintah, baik dari Provinsi Kaltim maupun Pemerintah Kabupaten Kutai Timur serta masyarakat setempat setuju, namun kalangan aktivis dan mahasiswa masih terus menggelorakan semangat penolakan.

Wabup Kutim Kasmidi Bulang mengatakan, area yang diusulkan menjadi kawasan pabrik semen di Kaltim dan ditambang, tidak masuk dalam area hasil delineasi Kawasan Cagar Budaya Karst Sangkulirang – Mangkalihat. Luasan cagar budaya hanya sekitar 14.000 hektar, terdiri dari 2.000 hektar merupakan zona inti dan 12.000 hektar sebagai zona penyangga. Jumlah itu bagian dari total luasan Karst Sangkulirang –Mangkalihat yang mencapai 105.000 hektar.

“Usulan pabrik semen sudah keluar izinnya sejak 2003 lalu. Lokasinya, berada di luar cagar budaya tersebut. Karena di situ masih ada sekitar 1.071, 14 hektar dari 8.000 hektar luasan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yang merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang bisa dimanfaatkan untuk usaha,” kata Kasmidi Bulang.

Meski belakangan, terbit Peraturan Gubernur Kaltim nomor 67 tahun 2012 yang menyatakan seluruh kawasan Sekerat, masuk dalam KBAK, seluas 8.000 hektar, bukan 7.000 hektar.

“Saat ini untuk Peraturan Gubernur Kaltim tersebut sedang kita tinjau kembali. Karena hal ini berbeda dengan RTRWK Kutai Timur,” ujarnya.

Pemkab Kutim, menurut Kasmidi, pada dasarnya mendorong investasi yang masuk. Tapi tetap memikirkan dampak lingkungan. Kalau dilihat di peta, kawasan yang 1.071,14 hektar, berada di kaki gunung tepi pantai Sekerat, bukan di bukit karst yang tinggi.

“Investor juga berjanji melakukan eksploitasi dengan pola ramah lingkungan. Mengunakan surface mining machine dan tidak membuat ledakan dalam melakukan operasionalnya. Termasuk menyisakan bukit karst minimal 82 meter di atas permukaan laut,” ujarnyajuga berjanji melakukan eksploitasi dengan pola ramah lingkungan. Mengunakan surface mining machine dan tidak membuat ledakan dalam melakukan operasionalnya. Termasuk menyisakan bukit karst minimal 82 meter di atas permukaan laut,” ujarnya


1. Tuntutan mahasiswa

Ada 6 tuntutan yang disampaikan mahasiswa kepada Gubernur Kaltim Isran Noor ketika menggelar aksi demo di depan kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada, Senin (25/3/2019).

Pertama, menolak pembangunan pabrik semen di Kaltim. Kedua, tolak segala bentuk eksploitasi yang merusak alam. Ketiga, berikan hak atas tanah untuk mengembangkan ekonomi terbarukan yang ramah lingkungan. Keempat, tolak RPJMD, RZWP3K, RT/RW Kaltim. Kelima, tolak segala bentuk kriminalisasi gerakan. Keenam, cabut semua IUP yang ada di karst Sangkulirang, Kalimantan Timur. Para demonstran juga meminta agar Gubernur mendengarkan aspirasi mereka. Menanggapi hal itu, Gubernur Kaltim Isran Noor justru tetap santai di lobby kantor Gubernur. Gubernur Kaltim Isran Noor  tetap membiarkan mahasiswa menyampaikan orasi.

"Bagus aja mereka menyampaikan itu. Sudah benar. Tapi yang benar belum tentu pas. Gak apa-apa itu, didengarkan saja," kata Gubernur Kaltim Isran Noor.

Gubernur Kaltim Isran Noor juga tak ada gelagat untuk menemui para mahasiswa yang mengepung gerbang kantor Gubernur Kaltim. Gubernur Kaltim Isran Noor lebih memilih mendengarkan aspirasi mahasiswa dari balik jendela kantor.

"Dia kan minta didengarkan Gubernur, ya saya sudah dengarkan dari tadi. Saya dengarkan dari jendela, jelas," ucap Isran.

2. Diminati investor

Ada beberapa investor besar yang siap menggolkan rencana pembangunan pabrik semen di Kaltim. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribunkaltim.co, salah satunya Semen Bosowa. Perwakilan dari manajemen Bosowa sudah pernah bertatap muka dengan Gubernur Kaltim, yang saat itu dijabat Awang Faroek Ishak di 2016 lalu. Selain itu juga ada Semen Kaltim. Sekitar bulan Mei 2017 lalu, Semen Kaltim sedang dalam proses untuk mendapatkan izin dari Pemprov Kaltim.

“Yang punya Semen Kaltim itu pengusaha lokal. Namanya Pak Sigit. Rencananya, dalam pembangunan, ia akan juga bermitra dengan Semen Indonesia, serta ada beberapa investor dari luar,” ujar Syahril, dari Dinas Lingkungan Hidup Kaltim bulan Mei 2017 lalu, seperti dilansir Tribunkaltim.co.

3. Potensi karst Kaltim cukup untuk 100 tahun

Tim ahli dari Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM merekomendasikan hanya 1.435 ha di kawasan eksositem karst Sangkulirang Mangkalihat yang boleh dimanfaatkan untuk industri semen. Menurut ketua tim, Dr Eko Haryono, luasan tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Kaltim dan ekspor.

"Kami sudah hitung dan kaji ada batuan gamping yang tidak termasuk sebagai karst yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku semen. Luasan 1.435 ha itu bisa untuk memenuhi kebutuhan hingga 100 tahun ke depan," kata Eko Haryono.

Ahli geomorfologi karst UGM itu mengungkapkan hal tersebut saat menyampaikan hasil kajian timnya di depan peserta forum group discussion tentang Rencana Induk Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat di Sangatta, Selasa (6/11/2018), seperti dilansir Tribunkaltim.co.

Diskusi digelar oleh Bagian Sumberdaya Alam Setkab Kutai Timur bekerjasama dengan UGM. Menghadirkan para ahli terkait antara lain ahli biodiversity endokarst Dr Cahyo Rahmadi, ahli hidrologi karst Dr M Widyastuti (UGM), ahli lukisan cadas ITB Dr Pindi Setiawan, serta ahli biodiversity dari Fakultas Kehutanan Unmul Dr Paulus Matius MSc.

Luasan ekosistem karst Sangkulirang Mangkalihat mencapai 1,8 juta ha.Terbentang dari timur di semenanjung Mangkalihat, Kabupaten Beray sejauh 200 km hingga ke Sangkulirang, Kutai Timur di barat. Kawasan ekosistem karst menyebar di enam kecamatan di Berau seluas 776.000 ha dan di tujuh kecamatan di Kutai Timur seluas 1,1 juta ha. Menurut Eko Haryono, tidak semua batuan gamping di ekosistem karst Sangkulirang Mangkalihat itu berupa karst.

Dari kajian berhasil diidentifikasi luas kawasan karst mencapai 403.151 ha. Angka ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai kawasan lindung menurut Pergub No 67/2012 sebesar 307.377 ha. Hasil kajian ini dimasukkan di dalam Rencana Induk Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat untuk kemudian diusulkan oleh Pemprov Kaltim ke Badan Geologi Kementerian ESDM sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Sangkulirang Mangkalihat.

Salah satu syaratnya adalah dengan terlebih dulu mengundang partisipasi para pihak melalui FGD. Sudah tiga kali FGD digelar. Pertama di Samarinda, 1 Oktober 2018. Berikutnya digelar di Tanjung Redeb (Berau) pada 29 Oktober 2018, dan terakhir di Sangatta (Kutim) pada 6 November 2018.

Mengacu pada Permen ESDM No 17/2012, yang disebut karst adalah bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan air pada batu gamping dan/atau dolomit. Sedang KBAK adalah karst yang menunjukkan bentuk eksokarst dan endokarst tertentu. Ia merupakan kawasan lindung geologi sebagai bagian dari kawasan lindung nasional.

Dikatakan, jumlah penduduk Kaltim (2017) 3,575 juta jiwa. Kebutuhan semennya mencapai 1,018 juta ton. Dan untuk eskpor juga diasumsikan sama, yakni 1,018 juta ton. Kebutuhan semen penduduk diasumsikan 285 kg per kapita. Dengan asumsi pertumbuhan peduduk rerata 3 persen per tahun, maka kebutuhan semen untuk 50 tahun ke depan (2067) adalah 8,932 juta ton. Pada 100 tahun lagi, saat jumlah penduduk Kaltim 66,7 juta jiwa, maka kebutuhan domestik dan ekspor Kaltim diproyeksi mencapai 1,237 miliar ton semen.

"Dengan kebutuhan produksi semen sebesar itu hingga 100 tahun, maka luasan lahan quarry yang dimanfaatkan cukup 1.435 ha saja," ungkap doktor prtama di Indonesia bidang geomorfologi karst itu.

4. Dikhawatirkan merusak lingkungan dan mata pencaharian nelayan

Sebelumnya, telah muncul kekhawatiran dari beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti yang tergabung di dalam Aliansi Masyarakat Peduli Karst (AMPK) Kaltim. Dalam wawancara setahun lalu (16/5/2017), AMPK menyebutkan, mengacu pada Pergub Nomor 67/2012 ada sekitar 190 ribu lahan di eksostem karst Sangkulirang Mangkalihat yang terancam oleh penambangan pabrik semen.

AMPK khawatir jika itu dilakukan maka akan merusak ekologi kawasan karst. Mereka menanggapi keluarnya izin untuk industri semen di Biduk-biduk, Kabupaten Berau. Masyarakat setempat menolak rencana tersebut karena ikhawatirkan akan merusak lingkungan dan mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

Daerah Biduk-biduk selama ini juga dikenal sebagai daerah wisata berbasis karst-bahari. Keindahan Biduk-biduk, Teluk Sulaiman, Teluk Sumbang hingga Tanjung Mangkalihat sangat elok. Masyarakat setempat bahkan sudah membangun tempat wisata di pinggir pantai Teluk Sumbang.

Di kawasan itu Gubernur Kaltim Awang Faroek (terdahulu) telah mendukung rencana pendirian dua pabrik semen. Yakni Semen Bosowa di Teluk Sulaiman, dan Semen Kaltim di Teluk Sulaima untuk tambang sekaligus lokasi pabrik.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat itu, telah menyatakan sikap mendukung investasi tersebut, dengan pertimbangan bahwa lokasi investasi yang diincar kedua investor tidak tergolong dalam kawasan karst yang dilindungi sesuai Pergub 67 Tahun 2012. Namun melalui kajian terbaru yang dilakukan tim ahli Kelompok Studi Karst Sangkulirang Mangkalihat, akan ada perubahan pemetaan mana yang boleh dan tidak boleh dimanfaatkan. Mana yang dilindungi dan tidak.

Kajian ini dianggap lebih komprehensif dan detil karena dilakukan dari semua aspek dengan skala lebih besar, yakni 1:50.000. Karena itu, para pihak menyetujui dan mengapresiasi hasil kajian tersebut. Para pihak dimaksud antara lain dunia usaha, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

5. Mahasiswa semen kali di depan kantor Gubernur Kaltim

Tiga perwakilan dari Mapala se-Kaltim, lakukan aksi semen kaki di depan kantor Gubernur Kaltim, Rabu (28/3/2018) lalu. Aksi dilakukan sebagai bentuk penolakan akan masuknya pabrik semen di kawasan Karst, hingga Biduk-Biduk, Berau, Kaltim. Satu dari tiga perwakilan itu, yakni Abe, mahasiswa Pencinta Alam dari kampus IAIN, Samarinda.

"Sudah disemen sejak jam 12.00 WITA tadi. Tetap akan seperti ini, sampai malam hari. Kemungkinan, aksi penyemenan kaki dilakukan sekitar 6 jam," ucapnya.

Selain lakukan semen kaki, di dermaga depan kantor Gubernur tersebut juga dipajang beberapa kreasi hasil foto kamera yang menunjukkan keindahan alam dari Karst, hingga kehidupan nelayan dan masyarakat di kawasan Biduk-Biduk. Koordinator aksi aksi semen kaki, Sutrisno, ikut bersuara terkait agenda hari itu saat ditemui di lokasi.

"Silakan dilihat sendiri, bagaimana keindahan alam di Karst, serta kawasan Biduk-Biduk. Apakah ini ciri pemerintah yang merakyat, jika keindahan alam harus diganti dengan rupiah besar dari pabrik semen ?," ucapnya.

Apalagi, disebut Sutrisno, riwayat ekonomi tambang sudah lumrah diketahui, tak memberikan dampak menyejahterakan daerah di sekitarnya.

"Apakah ada riwayat daerah sejahtera ketika ada tambang masuk ke daerah itu? Lihat saja apa yang terjadi di Kukar, lalu Desa Mulawarman yang penduduknya tergusur karena hadirnya tambang. Belum lagi kondisi Samarinda yang mendapatkan banjir semakin parah karena banyaknya izin tambang di ibukota. Pemerintah seperti tak belajar dari apa yang sudah terjadi," ucapnya.

Untuk kawasan Karst sendiri, Mapala se Kaltim, hingga kini belum dapatkan kejelasan jelas apakah pabrik-pabrik semen ini sudah disetujui atau tidak oleh pemerintah.

"Sudah lebih setahun sejak kami lakukan aksi penolakan pabrik semen, hingga kini sampai dimana kejelasan pabrik semen itu, belum ada yang disampaikan ke publik," ucap Alfin, Koordinator Aksi lainnya.

6. Karst jadi salah satu potensi investasi yang ditawarkan ke asing tahun 2018

Coastal Road Balikpapan, karst untuk bahan baku semen, dan Jalan Tol Samarinda-Bontang jadi tiga potensi investasi yang akan ditawarkan Kaltim kepada investor asing, di 2018 ini.Tiga potensi tersebut masuk dalam Brownbook, yang disusun Regional Investor Relation Unit (RIRU) Kaltim.

Sekadar informasi, Kaltim masuk dalam pilot projects RIRU. Di Indonesia, ada lima provinsi yang masuk dalam pilot projects tersebut. Nantinya, potensi ini akan ditawarkan ke investor luar negeri, via jaringan Indonesia yang ada di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di luar negeri. Kelembagaan RIRU sendiri diatur melalui Keputusan Gubernur. Unit ini, dipimpin langsung oleh Gubernur, dan wakilnya diisi oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

"Anggotanya berasal dari semua OPD (organisasi perangkat daerah), termasuk juga Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI), Kaltim," kata Christian, Anggota Tim Pengembangan Ekonomi Perwakilan BI Kaltim, Sabtu (31/3/2018).

Di dalam Brownbook disebutkan, total investasi untuk Tol Samarinda-Bontang sebesar Rp 10,7 triliun. Proyek ini ditawarkan dengan skema publik privat partnership (PPP). Sementara, potensi investasi kedua yakni pabrik semen di Berau (Berau Cement Factory), dengan nilai investasi Rp 5,1 triliun. Di dalam Brownbook juga disebutkan, cadangan bahan baku semen yang ditawarkan mencapai 200 tahun. Sementara, skema investasi yang ditawarkan yakni joint venture. Terakhir, potensi investasi yang ingin dijual ke luar negeri adalah Coastal Road Balikpapan. Dengan total investasi sebesar Rp 4,9 triliun.

"Nah, tiga potensi ini kita tawarkan kepada setiap investor asing yang datang ke Kaltim. Terutama mereka yang datang belum membawa tema investasi apa yang diinginkan," kata Christian.

http://kaltim.tribunnews.com/2019/05/04/6-fakta-rencana-pabrik-semen-di-kaltim-potensi-karts-cukup-untuk-100-tahun-hingga-alasan-penolakan?page=all.
 

Kembali
Link Instansi Terkait